Ungkapan
Tanyaku
Malam yang lalu, malam kemarin, hingga
detik malam ini. Selalu ingin aku bertanya, tentang rasa yang semakin hari meluap.
Mungkin, rasa ingin tahu ini tak dapat
dibendung lagi.
Padahal, hanya ada satu alasan mengapa
aku ingin sekali mengetahuinya. Hanya tentang sebuah rasa, rasa yang bodoh.
Mungkinkah ungkapan tanyaku ini akan
terjawab?
Ku terus menunggu dan hanya menunggu,
menunggu waktu yang pantas.
Hingga dimalam hariku, ku bertanya.
“Malam demi malam selalu ku ingin ungkapkan tanya, lantas? Pantaskah ku ungkapkan tanya!”
Malam hanya terdiam, sunyi dan sepi tak ada
jawaban. Malam selanjutnya, ku bertanya.
“Benarkah? Kau hanya akan selalu berada di kegelapaan itu?”
Malam menambah kesunyainnya, dan esok
aku bertanya kembali.
“Apa memang? Ungkapan tanyaku ini tak pantas di ungkapkan untukmu?”
Malam tak menjawab juga.
Di malam yang berbeda lagi, ku ungkapkan
Tanya terakhirku.
“Inginkah kau menjawab? Malam? Mengapa kau hanya terus terdiam?”“Mungkinkah ungkapan tanyaku tak pantas untukmu? Atau aku yang tak pantas untukmu?”“Sungguhkah benar-benar itu jawabmu? Katakanlah! Katakanlah!”
Malam masih sepi dan sunyi, hanya
terdiam didalam kegelapan itu.
Ternyata benar, tanyaku ini tanya yang
bodoh dan tak mungkin.
Hanya membuat persoalan yang tak akan
bisa di persoalkan. Hanya karena tentang sebuah rasa, yang sesungguhnya memang
tak mungkin.
Karena malam hanya bisa terpaku dalam
kesepian, kesunyian dan kegelapan yang amat menakutkan.
Hingga hari esok, dia sudah menjadi
malam yang tetap begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar